Sejarah Tahu Sumedang hingga Kini Bisa Tersebar Luas

Tahu sumedang merupakan salah satu makanan khas dari kota Sumedang yang kini sudah dikenal hingga seluruh nusantara. Bahkan tahu sumedang sekarang tidak hanya terdapat di kota asalnya saja, tetapi sudah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Semua ini tak lepas dari sejarah tahu sumedang hingga bisa melegenda seperti sekarang ini.

Tahu sumedang berbeda dengan tahu pada umumnya karena memiliki rasa yang renyah saat digigit. Tak heran jika makanan yang satu ini sangat diminati oleh banyak kalangan. Hal ini juga disebabkan karena harganya yang super murah.

Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua tahu sumedang yang berada di luar kota Sumedang rasanya sama dengan yang aslinya. Dengan begitu, perlu sekali-kali berkunjung ke Sumedang untuk mencicipi icon kuliner yang satu ini. Bahan yang digunakan dalam cara membuat tahu sumedang tentu sangat berkualitas.

Hal ini untuk menunjang cita rasa lokal dan kekhasan tahu sumedang. Bahkan banyak disana yang membuka usaha tahu sumedang secara turun-temurun. Artinya tahu tersebut merupakan warisan dari para pendahulu.

Sejarah Tahu Sumedang

Bisa dilihat bahwa peluang usaha tahu sumedang asli sampai sekarang tidak pernah mengalami kesurutan. Hal ini terjadi karena sejak zaman dahulu cita rasa dan kekhasan tahu sumedang tetap terjaga. Bahkan jika berkunjung ke Sumedang icon kuliner ini laris sudah sejak tahun 1990-an. Bukan waktu yang sebentar hingga bisa bertahan sampai sekarang.

Pembuat tahu sumedang pertama kali adalah Ong Bun Keng yang merupakan keturunan dari bangsa Tionghoa. Sosok inilah yang ada dibalik kepopuleran tahu sumedang ini. Pencetus pertama dari tahu sumedang adalah On Kino yang tak lain adalah ayah dari Ong Bun Keng.

Awalnya Ong Kino membuka sebuah usaha berjualan keripik dari tapioka singkong. Lalu pada tahun 1917 ditandai sebagai dibuatnya tahu Bungkeng. Saat itu pembuatan tahu masih menggunakan cara yang sangat tradisional.

Gilingan yang digunakan untuk membuat tahu hanya berbahan batu sederhana. Setelah beberapa saat, Ong Kino pulang ke Tiongkok. Seluruh usaha yang ada di Indonesia diserahkan kepada Ong Bun Keng.

Bupati Sumedang Pangeran Soeria Atmadja

Menurut sejarah tahu sumedang, dulu orang Sunda masih belum minat dengan tahu buatan orang Tionghoa. Setelah ditinggal oleh Ong Kino, produksi tahu dilanjutkan Ong Bun Keng. Membuat jumlah produksi semakin menurun karena masih dalam tahap uji coba.

Ada kisah yang menarik dibalik produksi tahu sumedang ini. Sekitar tahun 1928, Bupati Sumedang yang bernama Pangeran Soeria Atmadja mendatangi Ong Bun Keng. Kebetulan saat itu beliau sedang melakukan perjalanan dengan kuda menuju ke Situraja.

Bupati Sumedang menganggap bahwa bentuk dan aroma tahu sangat menggugah selera. Beliau akhirnya turun untuk menyaksikan penggorengan tahu secara langsung. Saat itu Pangeran Soeria Atmadja banyak bertanya soal kegiatan yang sedang dilakukan oleh Ong Bun Keng.

Saat itu Ong Bun Keng menyebutnya tou fu yang merupakan makanan asal China. Karena penasaran akhirnya Pangeran Soeria Atmadja langsung mencicipi makanan tersebut untuk pertama kalinya. Setelah itu, beliau mengatakan apabila tahu dijual pasti bakalan laris terjual. Sebab rasanya yang sangat lezat dan gurih.

Perdagangan Tahu Sumedang

Ucapan bupati inilah yang mengawali sejarah tahu sumedang mulai diperjualbelikan. Pada tahun 1950-an sasaran utama dari penjualan tahu ini adalah para pengendara dan penumpang bus yang melintas di pinggir jalan raya.

Saat itu produksi tahu sumedang berjumlah 500 buah per harinya. Harga yang ditawarkan dulunya juga hanya 5 sen. Pada tahun 1970 hingga 1980, jumlah produksi tahu sumedang sudah mulai berkembang. Bahkan di tahun 1992 sudah naik menjadi 7000 buah per hari.

Mantan pekerja saat itu banyak yang bekerja di tempat lain. Sehingga memungkinkan mereka untuk membuka usaha baru dan menyebarkan resep tahu sumedang ini. Sehingga dari awal mulanya sejarah tahu sumedang hingga kini tak pernah mengalami penyurutan.

 

error: Content is protected !!